Kalau pandemi Covid-19 ini berakhir, apa yang pengen kalian lakukan? Pasti jawaban terbanyaknya adalah mudik atau liburan.
Kita pasti sudah jengah di rumah aja selama hampir 5 bulan terakhir ini. Jiwa raga rasanya kayak protes minta diajak treatment ke salon atau piknik cantik.
Untuk mengobati rasa kangenku terhadap suasana piknik, aku mau lanjutin tulisan tentang piknik ke Bali yang udah lama mangkrak di draft blog.
Aku tuh males update tulisan ini karena mager nyari foto-fotonya, udah terlalu jauh scroll galeri HP. Tapi karena sekarang pengen bernostalgia lagi, jadi aku lanjutin aja deh.
Aku dan suami memutuskan untuk piknik ke Bali lagi bulan November 2019 kemarin. Sebelumnya, tujuanku ke Bali itu cuma staycation di Nusa Lembongan aja, sehingga kurang banyak explore mainland-nya Bali sendiri. Jadi, piknik anniversary kami yang ketiga ya ke Bali (lagi). We just can’t get enough of Bali.
Yang mau baca keseruan staycation di Nusa Lembongan Bali bisa baca disini:
(Late) Honeymoon
Beberapa hari sebelum tanggal keberangkatanku ke Bali, aku udah pesan kendaraan sewa melalui situs Bali Jaya Trans. Kita bisa request jenis kendaraanya dan dimana lokasi pengantarannya. Kami memilih sepeda motor untuk akomodasi selama disana.
Menurut kami, naik motor di tempat baru jauh lebih seru ketimbang naik mobil. Lebih gampang kalau mau kemana-mana, nggak perlu repot mikirin gimana tempat parkirnya. Naik motor juga lebih romantis kan, bisa peluk suami meski panas-panasan. 😛
Seperti biasa, kami ambil flight paling pagi dari Jogja. Begitu pesawatnya landing di Ngurah Rai, kami sudah ditunggu sama pihak rental sepeda motor di pintu luar parkiran bandara.
Kami mengurus pembayaran dan menyerahkan identitas diri sebagai jaminan kendaraan. Bensin sudah diisi full tank, disediakan pula jas hujan dan dua helm. Saranku, kalau mau pilih kendaraan, pilih yang modelnya paling baru sekalian, biar dapet motor yang kondisinya masih bagus.
Sampai di Bali masih lumayan pagi, jadi kami sengaja nggak sarapan dari Jogja, cuma makan biskuit doang. Dengan mengandalkan google maps, kami sarapan di Ayam Betutu Khas Gilimanuk di Jl. Raya Tuban No.2X, sekitar 2,5 km dari bandara.

Kami pesan ayam betutu kuah setengah ekor, sate ayam lilit, dua porsi nasi dan es teh. Rasanya enak dan harganya lumayan terjangkau, hanya sekitar Rp 100.000-an. Sangat recommended bagi kalian yang pengen mampir makan dulu dalam perjalanan dari bandara menuju hotel karena lokasi restoran ini searah dengan jalan menuju Kuta.
Kami menginap di Fave Hotel Kuta Square dengan pertimbangan jaraknya yang strategis, dekat dengan pantai dan mall. Lokasi hotelnya di Jalan Khayangan Suci yang jalanan di depannya tuh hanya muat untuk satu mobil. Keputusan yang tepat buat sewa motor kan, nggak perlu ribet mikirin parkir.
Kami sampai di hotel sekitar pukul 11.00 WITA. Karena baru bisa check-in jam 13.00, kami titip tas di hotel dulu terus lanjut motoran keliling Kuta-Legian. Mumpung udah di Bali, aku pengen banget mampir ke Starbucks Reserve Dewata.
Sebenernya kami bukan anak nongkrong Starbucks sih, tapi karena cafe ini katanya merupakan gerai Starbucks yang paling besar di Asia Tenggara, aku jadi penasaran pengen kesini. Hihi.
Selain itu, katanya gerai Starbucks ini memiliki beberapa menu spesial yang tidak bisa kita dapatkan di gerai Starbucks lainnya se-Indonesia. Aku jadi makin pengen nyobain kan.
Starbucks Reserve Dewata berlokasi di Jl. Sunset Road. Kalian dapat menemukan lokasinya dengan mudah karena letaknya yang berada di jalan utama dari arah Bandara Ngurah Rai menuju Seminyak. Perjalanan dari Kuta menuju Starbucks Dewata hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Tempat ini merupakan gerai Starbucks Reserve Bar ke-10 di dunia dan satu-satunya yang mengusung konsep coffee sanctuary. Gerai Starbucks Dewata ini merupakan bangunan dua lantai dengan eksterior depan berupa batu bata merah yang ditata menyerupai ombak pantai.
Berbeda dengan gerai Starbucks pada umumnya yang didominasi oleh warna hijau dengan logo khasnya, Starbucks Dewata mempunyai logo khusus berupa bunga lotus yang terinspirasi dari filsafat Bali.
Pengunjung yang mengendarai mobil dapat parkir di area parkir mobil di bagian depan gerai. Sementara pengendara sepeda motor harus melewati lobby dan parkir di area parkir belakang gerai.
Di pintu masuk, terdapat ornamen-ornamen yang nuansanya Bali banget. Ada beberapa staff yang menyambut pengunjung dan menunjukkan arah pintu cafenya, berasa masuk ke hotel mewah gitu.
Setelah melewati pintu masuk utama, kita langsung bertemu dengan ruangan outdoor yang merupakan kebun kopi seluas 100 meter persegi. Inilah yang membuat gerai Starbucks ini spesial, karena ada kebun kopi di dalamnya.



Terdapat keterangan jenis-jenis kopi dan bagaimana cara pengolahannya hingga menjadi biji kopi. Di tempat ini, selain bisa menikmati menu spesial Starbucks Dewata, pengunjung juga bisa belajar ilmu baru tentang pembibitan tanaman kopi hingga pengolahan biji kopi.

Ketika masuk ke cafenya, hal pertama yang membuat kagum adalah desain interiornya yang mewah. Terdapat ornamen besar berupa anyaman dari bambu yang menggantung di langit-langit, menambah kesan unik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang hobi foto-foto.
Ada dua jenis bar di Starbucks Dewata, yaitu main bar dan reserve bar. Di reserve bar, pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan barista karena disini konsepnya menyajikan kopi secara tematik. Pengunjung dapat memilih jenis kopi yang diinginkan sesuai tema hari itu, misal temanya kopi Toraja atau West Java.

Desain meja reserve bar ini juga unik karena dibuat berundak yang menggambarkan terasering area persawahan di Ubud Bali. Karena pengetahuan perkopian kami biasa aja, kami memesan yang konvensional aja di main bar.
Aku memesan menu yang hanya ada di Starbucks Dewata, yaitu Iced Dewata Latte. Sementara suamiku memesan Caramel Java Chip Frappe. Soal harga, menu di Starbucks Dewata ini lebih mahal dibanding gerai Starbucks biasanya. Kami membayar Rp 135.000 untuk dua gelas kopi.


Oh ya, di Bali ini kan sudah ada larangan penggunaan sedotan plastik, jadi Starbucks Dewata ini menggunakan sedotan berbahan kertas. Jangan kelamaan minum kopinya, nanti lama-lama sedotannya jadi lemes, huhu.
Di depan main bar terdapat stand souvenir yang menjual tumbler Starbucks dan cinderamata lain yang desainnya khas Bali.

Kami naik ke lantai dua untuk menikmati kopi yang sudah kami pesan. Ketika naik tangga, pengunjung disuguhi dekorasi dinding berupa ukiran kayu setinggi 9 meter. Dekorasi tersebut menggambarkan tentang ciri khas kopi asli Indonesia yang diilustrasikan dalam ukiran biji kopi, rumah adat, dan petani kopi.

Begitu sampai di lantai dua, terdapat ruangan media center di sebelah kanan tangga. Dalam ruangan tersebut diputar video tentang kerjasama Starbucks dengan petani kopi lokal Indonesia. Sementara di tengah ruangan lantai dua, terdapat meja melingkar yang cozy banget buat buka laptop.

Ada ruangan outdoor juga di lantai dua. Kalau duduk-duduk disini sore-sore atau malam hari kayaknya bakalan seru. Kami datang tepat jam 12 siang, kebayang kan panasnya kayak apa, haha.
Kami duduk di ruangan outdoor lantai dua yang panas banget itu sambil menikmati kopi yang sudah kami pesan.

Iced Dewata Latte-nya mantab!!! Creamy dan nggak terlalu manis, pokoknya enak banget. Tapi Frappe-nya biasa aja, suamiku iseng doang pesen itu tapi malah zonk.
Ini kalau aku tinggal di Bali kayaknya bakalan sering Go-food Iced Dewata Latte-nya deh. Sekarang aja sambil nulis, aku masih kebayang rasanya dan pengen lagi. 😀
Setelah puas berkeliling dan foto-foto, kami kembali lagi ke hotel. Pas banget masuk jam check-in. Hal pertama yang kami lakukan ketika sampai di kamar hotel adalah bersih-bersih badan, kemudian tidurrrrrr!!! Hahaha ngantuk banget kami tuh karena berangkat dari rumah pagi-pagi buta.
Sekitar jam 17.00 WITA kami jalan kaki dari hotel ke pantai Kuta untuk menikmati sunset. Jaraknya tuh deket banget, cuma sekitar 500 meter. Sore-sore jalan bareng bergandengan tangan menuju pantai, sweet banget kan. Suatu hal yang jarang banget kami lakukan di Jogja, paling gandengannya waktu di mall, digandeng biar nggak belanja. 😛
Seperti biasa, pantai Kuta sudah ramai. Banyak yang duduk-duduk berpasangan atau bergerombol beberapa orang sambil menunggu sunset. Vibe-nya menyenangkan sekali, meski berada di tengah keramaian tetapi rasanya tenang dan damai di hati.

Suasana inilah yang membuat banyak orang tidak bisa berpaling dari keindahan alam pulau Bali. Meski banyak pantai di Jogja yang nggak kalah bagusnya, tetapi vibe-nya tuh beda. Kenapa ya? Seperti ada kekuatan magis yang membuat kami selalu ingin kembali berkunjung ke Bali.
Pulang dari pantai, kami jalan-jalan di sekitar Kuta Square dan Kuta Art Market yang masih searah jalan pulang ke hotel. Sekalian cari makan malam.
Agenda kami keesokan harinya adalah nonton pagelaran Tari Kecak di Pura Uluwatu. Ini seru banget sih selama perjalanan kesana, nanti kuceritain on another post ya. Udah panjang banget ini ternyata tulisannya, hehe.
Duhhh.. jadi makin pengen piknik nih. Corona cepetan selesai dong plissss…

