I’m back!!!!!
Setelah tiga purnama aku menghilang, kini aku kembali membawa kabar yang kurang bahagia. Sudah hampir 3 bulan belakangan ini aku bolak-balik rumah sakit. Kali ini aku mau sharing tentang health issue ya. Siapa tau ada faedahnya juga buat orang lain.
Yang biasanya aku browsing-browsing tentang skincare, belakangan berubah haluan jadi browsing tentang kesehatan, gejala penyakit, dan sebagainya (berasa balik jadi jurnalis D*t*k lagi). Hehe. Kayaknya bakalan jadi long post ini.
Awalnya, sekitar pertengahan bulan Agustus, ada benjolan kecil di leher sebelah kananku. Aku tau ini adalah kelenjar getah bening yang biasanya memang bisa bengkak kalau kecapekan. Sudah semingguan, tapi kok nggak kempes-kempes.
Lapor ke suami, dia cuma bilang “banyakin istirahat aja, kecapekan paling”. Aku tuh capek ngapain coba, sehari-hari ya cuma duduk depan komputer doang, masak jarang, nyuci nggak pernah, nyapu kadang-kadang. Disuruh istirahat yang kayak gimana dong.
Setelah dua minggu berselang, tepatnya hari Selasa tanggal 28 Agustus, aku mampir ke klinik Ramadhan abis pulang meeting di kantor. Kata dokter, “semua benjolan disebut tumor mbak, nah untuk tau ganas atau tidak, harus di-biopsi oleh dokter bedah”.
Mendengar kata dokter bedah, otakku langsung membayangkan hal yang nggak-nggak. Seketika nge-blank, mana aku periksa sendiri lagi nggak ditemenin suami. Masih harus naik motor pulang pula. Berasa sedih banget waktu di motor tuh, huhu.
Tapi kata dokter, kalau belum berani, ya dipertimbangkan dulu, observasi seminggu lagi, apakah kempes atau nggak. Sampai tanggal 4 September, sepulang dari meeting di kantor, aku mampir lagi ke klinik, dan akhirnya dikasih rujukan ke dokter bedah di RS. Bethesda Lempuyang Wangi yang deket sama rumah.
Mendaftarlah aku di poli bedah ke dokter Hariatmoko yang cuma praktek Kamis dan Sabtu aja. Mana antriannya panjang bener, aku reservasi tanggal 5 dapetnya hari Kamis tanggal 13.
Di tanggal 13 September itu, aku ijin kerja setengah hari karena jam praktek dokternya jam 12.00-15.00. Setelah antri 1,5 jam, barulah namaku dipanggil. Dokter hanya nanya dimana letak benjolannya. Megang sekali doang, kemudian tanya: “Berat badan turun drastis nggak mbak belakangan ini?” “Sering batuk-batuk?” “Dipencet sakit nggak benjolannya?”
Jawabku: “Berat badan normal dok” “Batuk ya kalau pagi aja pas dingin, saya memang ada alergi” “Benjolannya nggak sakit”
Dokter kemudian minta aku cek darah dan USG leher. Cek darah kulakukan hari itu juga, sementara USG leher dijadwalkan tanggal 17 September. Kemudian aku diminta kontrol lagi tanggal 20 dengan membawa hasil tes darah dan USG leher.
Sepulang dari RS, aku langsung googling cara membaca hasil tes darah. Aku bandingkan satu per satu hasil tes darahku dengan indikator batas minimum maksimum masing-masing variabelnya. Dengan ilmu sotoy-ku, aku mendiagnosa diri sendiri demam kelenjar, yang entah apa itu artinya.
Tanggal 17 September, aku balik ke RS buat USG. Kata dokter, isi benjolan di leherku itu banyak, nggak cuma sebiji. Aku makin panik, setiap hari kerjaannya browsing mulu pake keyword “benjolan di leher”.
Dari hasil penelusuranku di internet, benjolan di leher itu kemungkinannya ada dua yaitu TB kelenjar atau kanker kelenjar getah bening. Keduanya punya ciri yang mirip banget dan susah dibedakan. Tiap hari udah sedih aja bawaannya, takut banget kalau benjolan ini mengarah ke kanker.
Kalau mau tidur terus keingetan benjolan ini, pasti nanya ke suami, “Mas, gimana kalau ini beneran kanker?” Dia cuma jawab “Ya diobati.” Abis itu dimarahi “Udah to, mbok ya jangan pesimis, tau diagnosanya aja belum kok. Nggak usah mikir aneh-aneh”
Akhirnya, tanggal 20 September, aku kontrol lagi, membawa hasil USG dan tes darah. Dokter kemudian bilang “Ini harus biopsi ya, biar tau materi di dalamnya itu apa. Tidak mendesak tetapi ya jangan ditunda-tunda. Operasinya ringan tapi harus bius total. Nanti opname dulu semalam sebelum operasi”
Keluar ruangan dokter, kaki langsung lemes. Suami kemudian mendaftar tanggal buat opname dan operasi. Aku cuma duduk bengong aja, karena ini akan menjadi momen opname pertamaku di RS, pakai acara operasi pula.
Tanggal 30 September, ibuku datang berkunjung. Katanya kangen sama anak-anak ceweknya yang dua-duanya tinggal di Jogja. Sebelumnya, aku emang nggak bilang kalau lagi sakit. Begitu ibu sampai di Jogja, baru aku kasih tau, ibu sempet shock sih tapi yaudah, aku minta didoain aja banyak-banyak. Doa orang tua kan manjur.
Aku cuti dari tanggal 3-5 Oktober, dan masih ada tambahan weekend dua hari buat istirahat. Tanggal 3 Oktober, aku masuk RS, suami yang ngurus semua administrasinya, aku tinggal dateng aja. Pertama dateng diminta tes darah lagi dan rontgen thorax buat tau kondisi paru-paru, jantung, dan area rongga dada.
Ibu sama suami bergantian nemenin aku, tapi ibu nggak mau nginep di RS. Takut katanya. Ibu ditemenin adekku tidur di rumah. Aku sama suami malah santai aja malem itu, nggak ada panik atau gimana. Aku streamingan nonton drama sampe ketiduran, sementara dia tetap dengan kebiasaannya baca e-book di tablet PC.
Besoknya, tanggal 4, aku diminta puasa dari jam 4 pagi. Sekitar jam 10 pagi, aku diinfus. Proses pemasangan infus ini yang bikin dag did dug, karena baru pertama kali. Apalagi perawat kesulitan cari vena di tanganku, sampai 3 kali percobaan baru berhasil. Udah kayak korban penganiayaan aja tangan banyak perbannya.

Jam 12.30, aku masuk ke ruang operasi. Selama persiapan operasi, seorang perawat nanya-nanya seperti rumahnya mana, kerja dimana, gitu. Mungkin untuk mengetahui apakah obat biusnya udah bekerja apa belum. Kata orang kalau obat bius udah bekerja, mata kerasa berat dan omongannya jadi nggak nyambung. Tapi aku nggak inget sih, ingatan terakhirku, aku lagi dipakein penutup kepala sama dokter anestesinya.
Aku bangun karena merasa ada sesuatu di lengan kiriku. Tekanan dari alat tensi otomatislah yang bikin aku sadar. Ada selang pernapasan yang masuk ke hidungku kayak di film-film gitu. Aku meraba leherku, udah diperban tebel. Jam dinding di ruangan itu menunjukkan pukul 13.30, Cepet juga operasinya, mungkin hanya 30 menitan, sisanya menunggu aku sadar dari obat bius.
Perawat menunjukkan hasil biopsi yang disimpan dalam gelas bening. Isinya kayak bakso kerikil yang jumlahnya sekitar 6 atau 8 butir. Tekstur permukaannya nggak halus, tapi berserat gitu kayak tetelan. Hasil biopsi tersebut akan dikirim ke lab buat dipelajari substansinya.
Aku balik ke kamar pasien sekitar pukul 14.00. Pukul 15.00 aku dapat makan dan pukul 18.00 udah boleh pulang. Aku naik motor dong, dibonceng suami tanpa pake helm, karena rumah juga jaraknya cuma 200 meter dari RS.
Ibu pulang ke Wonogiri tanggal 6. Nggak ada yang masakin aku lagi deh, hiks. Jadilah aku sama suami mengandalkan Go-Food terus, Masak paling juga yang gampang-gampang aja.
Ternyata hasil lab baru keluar dua minggu kemudian, aku merasa di PHP dokter. Penasaran banget sama hasilnya, sampe kepikiran terus tiap malem. Mana suami juga pake ikutan sakit segala, badannya panas sampe 5 hari, udah curiga DB aja. Setelah diperiksain ternyata gejala tipes. Aduduh, serumah suami istri sakit semua, minum obat semua.
Tanggal 18 kemarin, aku kontrol lagi ke dokter dan akhirnya hasil lab keluar juga. Waktu perbanku diganti sama perawat, aku denger dokter bilang sama suamiku: “Hasil rontgen paru-parunya bersih ya, tapi ini hasil biopsi benjolannya menunjukkan TB kelenjar, pengobatan 6 bulan ya, bisa ambil obat di faskes I BPJS-nya”.
Disitu kumerasa lega. Terlepas aku harus minum obat selama 6 bulan penuh nggak boleh putus, hati rasanya plong karena semua kekhawatiranku tidak terbukti. Hasil lab menunjukkan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda ganas pada benjolan di leherku. Diagnosa menyebutkan: Limfadenitis Tuberkulosa atau TB Kelenjar.
Penyebabnya bisa jadi karena tertular oleh pasien TB paru. Yak masuk akal memang, baru bulan Juli lalu aku tinggal berdua doang sama suami, dan sebelumnya kami tinggal di rumah mertua bareng dua adik ipar yang salah satunya kena TB paru.
Baik TB kelenjar maupun paru, obatnya sama yaitu pil warna merah yang dosisnya disesuaikan dengan berat badan. Karena beratku 50 kg, aku harus minum 3 butir obat sekali minum, setiap hari selama 6 bulan lamanya. Diminum satu jam sebelum sarapan agar penyerapan obat maksimal.

Berbeda dengan TB kelenjar, pada penderita TB paru biasanya hasil rontgen paru-parunya penuh flek, dan perlu tes dahak untuk mengetahui adanya bakteri TB di paru-paru. TB kelenjar juga berbeda dengan TB paru karena tidak menular. Penderita TB paru bahkan nggak boleh sharing alat makan, spons cuci piring, handuk, dan sebagainya biar nggak nularin yang lain. Bakteri TB bisa terbang ke udara dan menular ke orang lain ketika penderitanya batuk, bersin, atau meludah.
Nah pertanyaannya, dari 4 orang penghuni rumah mertua, kenapa cuma aku yang ketularan coba. Apa karena aku cewek sendiri serumah. Hmm, entahlah, mungkin karena aku yang paling lemah di rumah.
Terlepas dari apa penyebabnya, yang penting udah tau pengobatannya. TB kelenjar bisa sembuh total dengan rutin minum obat dan tidak boleh skip. Pengobatanku dimulai tanggal 23 Oktober besok. Siap-siap pasang alarm tiap sejam sebelum jam sarapan nih.
Semangat sampai 6 bulan ke depan!!
